Opini Awam: Cicak Vs Buaya

Sebelumnya saya sempat melihat courtesy seorang wakil ketua xxx Jasin yang bersumpah tidak menerima suap dibawah Al-Quran. lalu saya berpikir, tambah gila aja nih kasusnya. minggu minggu ini di kotak ajaib alias televisi pada stasiun swasta tertentu berita tentang crash antara KPK dan Polri adalah menu utama yang ditayangkan-khususnya stasiun TV yang logo elang itu tuh. saya mengikuti, mengikuti salah satu kejadian teraneh di negeri ini tapi tidak terlalu mendetail. at least, ketika ada orang yang bertanya kepada saya, “KPK sama Polri ada apa sih?”

saya bisa menjawabnya secara umum. saya menulis ini bisa jadi karena saya muak dan gregetan dengan kasus tersebut yang berputar putar saja, sekaligus ini sekedar opini saya. opini awam. yang saya lihat dari awal adalah sebuah rencana besar. maksud saya, sangat besar, untuk menumbangkan badan yang memberi harapan kepada rakyat Indonesia saat ini: Komisi Pemberantasan Korupsi. the unconvinient truth is…meskipun ada beberapa orang bersih, sederhana, dan bekerja untuk rakyat dan negara di gedung DPR RI dan lembaga lembaga lainnya, masih ada saja kolega koleganya yang bermoral koruptif. selalu ada. lebih dari 40 kasus KKN besar telah diungkap oleh KPK dari 2004-2008 (versi Wikipedia Indonesia), jelas itu merupakan sepak-terjang KPK yang benar benar menyepak dan menerjang. oleh karena itu, KPK hadir sebagai momok horor bagi para pejabat tinggi negara yang koruptif tersebut. KPK was unstopable nature force! ingat, diduga cinta segitiga, lho. pernah menonton film Dark Knight? dimana Batman sadar bahwa kotanya membutuhkan pahlawan yang tidak bertopeng, pahlawan sesungguhnya, yakni serorang Jaksa Kota Gotham-Harvey Dent-yang memenjarakan seluruh tokoh kunci mafia dengan kecerdasan profesionalnya. saya memandang ketua KPK non-aktif, Antasari Azhar seperti itu, dialah ular yang gigih memburu-melahap tikus tikus KKN, namun sayang, berakhir pada sebuah skandal-yang diduga-cinta segitiga antara Antasari Azhar, Rani Juliani, dan Alm. Nasruddin yang berujung pada sebuah peluru yang bersarang di kepala Alm. Nasruddin-suami Rani.

chandra-bibit

memang di media massa dipublikasikan bahwa semua petunjuk mengarah kepada Antasari Azhar sebagai otak pembunuhan, namun mengingat saat ini hukum Indonesia bisa dikendalikan oleh Kamu-Tahu-Siapa, bisa saja pernyataan bahwa Antasari Azhar adalah seorang dalang merupakan kebohongan publik atau malah oknum penegak hukum yang sudah terbohongi. hanya untuk melumpuhkan sang ular dan melemahkan organisasinya. lalu ada lagi soal testimoni apalah itu.

lalu ada lagi Cicak vs Buaya. sungguh, saya tidak tahu secara jelas kejadian apa yang menyebabkan pernyataan spontan “cicak melawan buaya” keluar dari mulut seorang pejabat Polri, yang saya tahu sekarang adalah bahwa KPK sakit, koruptor penasaran, presiden tidur, dan Kamu-Tahu-Siapa masih menikmati nikmat dunia. rekaman penyadapan konspirasi untuk mengkriminalisasi wakil ketua KPK Bibit-Chandra sudah merupakan bukti nyata kejahatan Kamu-Tahu-Siapa, ‘Super’ Anggodo Widjojo. nyata, pak presiden. Kamu-Tahu-Siapa tidak diragukan lagi adalah Bento sebenarnya dalam lagu bung Iwan Fals, sang cukong yang dengan uangnya atau dengan apalah itu-kemungkinan besar- mengendalikan pasukan utama penegak hukum Indonesia, Kejaksaan dan Polri. sudah jelas. seorang manusia setengah dewa yang licin bicaranya seolah dia rakyat lemah yang juga butuh perlindungan saat berdialog dengan ketua TPF/Tim 8, ya?, Adnan Buyung Nasution [terdengar sangat ironis mengetahui Polri dibawah kendalinya!]. yang berkemelut di benak rakyat saat ini adalah dimanakah sang presiden yang katanya akan ada di barisan terdepan? tidak ada salahnya kan bertindak hanya untuk membuat rakyat berpikir, “oh, presiden masih ada toh.”

namaku bento mobil ku banyak..nanana

dan yang membuat saya deg-degan, berhubung saya anti-koruptor dan pendukung KPK, deg-degan soal kebenaran kasus suap kepada petinggi KPK saat ini, memang di sebuah program berita malam ini dinyatakan kebenaran soal penerimaan suap masih samar-belum pasti jelasnya, tapi sadar bahwa itu bukanlah sebuah akhir. kasus seperti ini tidak sama dengan berita selebritis cerai! harus ada penyelesaian yang jelas.

pada akhirnya nanti, bukan masalah KPK menang-Polri kalah atau Polri menang-KPK kalah, tapi mencapai suatu kondisi dimana semua lembaga kenegaraan Indonesia yang sehat, tidak ada unsur pembajakkan apalagi terskenario untuk menjatuhkan pihak tertentu yang dibenci. KPK sehat, Polri sehat, Kejaksaan sehat, semuanya sehat. oh ya, saya semakin bingung dengan kenyataan bahwa banyak sekali orang orang terlibat dan para pengamat yang ternyata tidak melulu mendukung KPK. udah udah, capek nulis tentang kasus pejabat pejabat tinggi negara. ingat, ini cuma opini awam. silakan berkomentar maupun menyanggah (ryn)

puisi dari pakar komunikasi politik Effendi Ghazali saat Unjuk Ekspresi di Bundaran HI-Jakarta, 8 Nov ‘09.
Republik Mimpi Buruk

Wahai anak-anak di Republik Mimpi Buruk
Malam ini nikmatilah mimpi sebagai Kapolri
Karena Kapolri bisa mengelabui Komisi III

Komisi III ramai-ramai menguji Kapolri
Tapi disandera dengan cium pipi kanan cium pipi kiri
Ini membuat penonton menjadi geli

Wahai anak-anak Republik Mimpi Buruk
Jangan mimpi jadi Superman, tapi mimpilah jadi ‘Super-Anggodo’
Karena Superman tidak bisa mengatur polisi
Tapi ‘Super-Anggodo’ bisa mengatur polisi dan Kejaksaan RI.

‘Super-Anggodo juga didukung oleh orang nomor satu di negeri ini
Lucunya Presiden kita tidak sakit hati karena tidak lapor ke polisi
Karena katanya belum ada bukti

Wahai anak-anak Republik Mimpi Buruk
Kita hanya ingin menyelamatkan KPK, Kejaksaan dan Polri
Tidak ingin kita melenyapkan mereka semua
Negeri ini masih butuh mereka
Tapi harus dibersihkan dari orang-orang kotor. (manusiakendi.wordpress.com)

Artikel Terkait Lainnya



0 Responses to "Opini Awam: Cicak Vs Buaya"

Poskan Komentar